Kenalan dari TikTok Berujung Mimpi Buruk, Wanita Surabaya Dianiaya Pacar hingga Lebam

Surabaya, Infopol.news – Seorang wanita asal Banyuurip, Surabaya, berinisial HR, menjadi korban dugaan penganiayaan oleh pria yang dikenalnya melalui media sosial TikTok. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka lebam di sejumlah bagian tubuh dan telah melaporkan kasus ini ke Polda Jawa Timur pada Rabu (22/4/2026).

Kasus ini mencuat setelah korban mendatangi rumah aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji. Hingga kini, laporan tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak kepolisian.

Dalam keterangannya, HR mengaku telah mengenal pelaku sejak 2023. Komunikasi keduanya sempat terputus sebelum kembali terjalin pada akhir 2025 melalui TikTok dan berlanjut ke percakapan pribadi.

“Dari tahun 2023. Kita berteman lagi di TikTok, Pak. 2025, Desember. Pertemuan di Facebook, Pak. Terus dia minta nomor WA saya,” ujar HR.

Korban mengaku tidak menaruh curiga, meskipun mengetahui pelaku aktif sebagai konten kreator yang mengaku sebagai spiritualis di TikTok.

“Saya lihat di akun TikTok-nya itu, dia itu jadi spiritualis. Saya tidak curiga,” lanjutnya.

Namun, tanda-tanda perilaku agresif sudah terlihat sejak pertemuan pertama pada Februari 2026. Saat itu, pelaku disebut membanting ponsel korban hanya karena terkunci.

“Baru ketemu itu memang sudah kelihatan kalau temperamen. Awal ketemu itu HP saya itu dibanting karena saya pakai password,” ungkap HR.

Setelah sempat menjauh, pelaku kembali menghubungi korban dan meminta maaf. Korban pun luluh dan kembali menjalin komunikasi setelah pelaku berjanji memperbaiki sikap serta mengganti kerugian.

“Bodohnya saya, saya mau,” tambahnya.

Insiden penganiayaan terjadi saat keduanya kembali bertemu di sebuah kamar kos di kawasan Tropodo, Kabupaten Sidoarjo. Di lokasi tersebut, korban melihat pelaku mengonsumsi obat-obatan yang tidak diketahui jenisnya.

“Nah itu saya lihat memang dia itu mengonsumsi obat-obatan. Gak tau obat apa,” katanya.

Tak lama setelah itu, korban mengaku menjadi sasaran kekerasan fisik tanpa alasan yang jelas. Ia dipukul dan dicekik hingga mengalami luka di wajah dan tubuh.

“Seperti sansak hidup saya waktu itu. Gak tau alasannya apa. Leher saya juga dicekek,” tutup HR.

Usai kejadian, korban sempat memeriksakan kondisi kesehatannya ke klinik bersama keluarganya. Atas saran tenaga medis, ia kemudian memutuskan melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian.

“Awalnya hanya ke klinik untuk periksa bersama kakak saya. Lalu sama dokter disarankan untuk lapor. Kemudian saya ke Polda itu,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan melalui media sosial. Aparat kepolisian diharapkan dapat segera mengusut tuntas perkara ini guna memberikan keadilan bagi korban.

Post Comment