Truk Ekspedisi Parkir di Bahu Jalan Prapat Kurung, Aktivitas Pelabuhan Tanjung Perak Picu Kepadatan
SURABAYA, Infopol.news – Sejumlah truk ekspedisi masih terlihat memanfaatkan bahu Jalan Prapat Kurung, kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sebagai tempat menunggu jadwal keberangkatan kapal.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kelancaran arus lalu lintas, terutama ketika jumlah kendaraan yang menunggu meningkat pada jam-jam sibuk.
Salah seorang sopir truk ekspedisi asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Jhony, mengaku memilih berhenti di pinggir jalan sambil menunggu kapal yang akan mengangkut barang menuju Sumba.
Ia mengatakan tidak menggunakan buffer area yang disediakan bagi kendaraan angkutan. Menurutnya, menunggu di pinggir jalan tidak dikenakan biaya dan selama ini dirinya mengaku jarang mendapat penertiban.
“Saya parkir di sini menunggu kapal. Kalau di luar tidak bayar. Selama ini juga tidak pernah ada penertiban,” ujar Jhony.
Menurut Jhony, waktu menunggu kapal terkadang cukup lama. Ia mengaku pernah berada di kawasan tersebut hingga satu hari karena kapal yang akan digunakan sedang menjalani perbaikan.
Hal serupa disampaikan Wardoyo, sopir truk asal Sragen, Jawa Tengah. Ia mengaku rutin mengirim barang ke sejumlah wilayah, seperti Kalimantan, Makassar, dan NTT. Dalam sebulan, ia dapat melakukan pengiriman hingga dua kali.
Wardoyo mengatakan kondisi area parkir terkadang tidak mampu menampung seluruh kendaraan ketika sejumlah kapal akan melakukan pemberangkatan secara bersamaan.
“Kalau pas kapal pemberangkatan barang, kadang tidak muat,” katanya.
Ia mengaku tiba di kawasan pelabuhan sejak sekitar pukul 05.00 WIB meskipun jadwal keberangkatan kapalnya baru berlangsung sore atau malam. Kedatangan lebih awal dilakukan untuk mengantisipasi perubahan jadwal dan proses pengurusan tiket.
“Daripada ketinggalan, lebih baik datang lebih awal. Kita juga ada pengurusan tiket,” ujarnya.
Meski demikian, Wardoyo menilai buffer area yang tersedia sebenarnya cukup memadai untuk kendaraan ekspedisi. Ia menyebut terdapat sejumlah area di kawasan Kalimas yang dapat digunakan sebagai tempat menunggu.
“Memadai,” ucapnya.
Untuk menggunakan buffer area, kendaraan dikenakan biaya berdasarkan lama parkir. Wardoyo mengatakan biaya yang dibayarkan untuk menunggu dari pagi hingga sore berkisar Rp35 ribu.
“Dihitung waktu. Kalau datang pagi keluar sore biasanya Rp35 ribu,” ungkapnya.
Menurut Wardoyo, lamanya waktu menunggu keberangkatan kapal sulit dipastikan. Jadwal dapat berubah, termasuk ketika kapal mengalami perbaikan.
“Kadang kapal juga mundur. Namanya kita orang mau jalan, datang lebih awal. Kadang kapal mundur juga tidak memberi tahu,” tuturnya.
Ia bahkan mengaku pernah menunggu hingga lebih dari tiga hari akibat perubahan atau pembatalan keberangkatan. Dalam satu pengalaman, Wardoyo menyebut harus menunggu hingga sekitar sepekan sebelum akhirnya kembali ke Sragen.
“Pernah satu minggu. Terus pulang ke Sragen,” katanya.
Selain waktu tunggu, biaya pengiriman barang melalui jalur laut juga menjadi pertimbangan bagi para sopir ekspedisi. Wardoyo menyebut ongkos pengiriman menuju sejumlah wilayah di NTT dan Flores dapat mencapai sekitar Rp8,5 juta.
Di sisi lain, Wardoyo menyadari bahwa memarkir kendaraan besar di bahu jalan memiliki risiko terhadap keselamatan pengguna jalan. Keberadaan truk yang berhenti di tepi jalan dapat mempersempit ruang lalu lintas dan meningkatkan potensi kecelakaan.
“Namanya di jalan siapa yang mau tahu. Bisa ditabrak orang mabuk atau bagaimana,” ujarnya.
Ia mengatakan lebih memilih menggunakan buffer area apabila kondisi memungkinkan. Menurutnya, penataan area parkir dan sistem antrean kendaraan perlu terus diperbaiki agar aktivitas kendaraan ekspedisi di kawasan pelabuhan tidak mengganggu arus lalu lintas maupun pengguna jalan lainnya.



Post Comment