Pemprov Jatim Pantau Dugaan Gangguan Kesehatan Penerima Program MBG di Tulungagung

TULUNGAGUNG, Infopol.news – Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian terhadap rangkaian dugaan gangguan kesehatan yang dialami pelajar penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tulungagung selama Januari 2026.

Sebagai langkah antisipasi, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Boyolangu pada Senin (26/1/2026). Ketiga dapur tersebut yakni SPPG Moyoketen 1, SPPG Moyoketen 2, dan SPPG Karangrejo.

Ketua Satgas Percepatan MBG Kabupaten Tulungagung, Johanes Bagoes Kuncoro, menjelaskan bahwa penghentian sementara dilakukan untuk memudahkan proses penelusuran penyebab gangguan kesehatan yang dialami sejumlah pelajar.

“Ada tiga dapur yang dihentikan sementara oleh BGN. Untuk durasi penghentian sepenuhnya menjadi kewenangan BGN. Setiap kali ada penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan, dapur dihentikan terlebih dahulu,” ujarnya.

Menurut Bagoes, langkah tersebut penting agar proses evaluasi dan deteksi sumber permasalahan dapat dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi pengolahan, distribusi, maupun faktor lain.

Ia juga menekankan pentingnya pelaporan cepat dari pengelola dapur kepada Satgas apabila ditemukan dugaan gangguan kesehatan pada penerima manfaat.

“Pelaporan harus segera dilakukan. Jika sampel makanan masih dalam kondisi baik, penyebabnya bisa lebih cepat diketahui, apakah dari proses memasak, distribusi, atau faktor alergi,” katanya.

Selain aspek pelaporan, Bagoes mengingatkan pengelola SPPG dan yayasan pendamping untuk menjalankan rekomendasi ahli gizi secara optimal dalam penyusunan dan pengolahan menu MBG.

“Ini bukan sekadar memasak makanan biasa. Program ini bertujuan memenuhi kebutuhan gizi, sehingga arahan ahli gizi harus benar-benar diterapkan,” jelasnya.

Ia mengakui, rangkaian kejadian tersebut telah menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Satgas MBG Kabupaten Tulungagung telah menyampaikan laporan awal penanganan kepada pihak provinsi.

“Informasi berkembang sangat cepat. Kami sudah berkomunikasi dengan Wakil Gubernur Jawa Timur. Untuk penyebab pastinya, saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” pungkasnya.

Post Comment