Sendang Tirto Kamandanu Situs Peninggalan Kerajaan Kediri

0
255

Infopol.news || Kediri – Situs peninggalan sejarah Kerajaan Kadiri pada masa pemerintahan Sri Aji Jayoboyo, berupa Sendang Tirto Kamandanu, masih ramai dikunjungi wisatawan.

Bukan hanya dari Kediri, melainkan juga wisatawan dari luar daerah. Bahkan, wisatawan asing sekali pun terkadang terlihat muncul di tempat ini.

“Kadang dari luar negeri pun pernah ke sini, Jakarta, dan Bali juga, termasuk masyarakat Kediri. Tapi lebih banyak lagi pada saat momentum bulan Syuro,” tutur Mbah Suratin, sang juru kunci kepada Wartawan Kamis ( 4/4/19).

pada Kamis tadi malam Sekira pukul 22.00 Wib,  banyak masyarakat datang berkunjung. Sebelum pengunjung masuk ke dalam area Sendang Tirto Kamandanu, di luar terdapat sebuah prasasti tertulis dalam bahasa Indonesia mengenai sejarah singkat tentang Sendang Tirto Kamandanu.

Dijelaskan jika Sendang Tirto Kamandanu merupakan situs peninggalan kerajaan di masa pemerintahan Sri Aji Jayabaya pada abad ke-12, yang dipugar atas prakarsa Yayasan Hondodento Yogyakarta.

Tempat ini merupakan patirtan (mata air yang dianggap suci) yang digunakan pada masa pemerintahan sang Prabu Sri Aji Jayabaya dan masih lestari sampai sekarang.

Selain sebagai tempat pemandian, air dari sendang Tirto Kamandanu ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan pengunjung atau peziarah sesuai keyakinan dan kepercayaan masing masing.

Hal ini seiring keyakinan masyarakat bahwa Sendang Tirto Kamandanu ini digunakan Melukad (mandi dan bersuci) oleh Sang Prabu Sri Adji Jayabaya sebelum melakukan Parama Mokhsa, yakni menghadap Tuhan beserta raganya.

Banyaknya pengunjung yang datang pada bulan Syuro karena mereka menganggap, pada saat momentum tersebut dirasa paling pas untuk mengalap berkah. Menarik untuk disimak, ternyata yang datang ke tempat ini bukan hanya dari kalangan lapisan masyarakat biasa, tetapi juga para petinggi Negara.

Pada saat momentum pemilihan legislatif (pileg) seperti sekarang ini, banyak para calon yang datang berkunjung ke tempat ini, hanya sekadar untuk berdoa agar hajatnya terkabul.

“Kalau caleg itu dari berbagai penjuru datang waktu pilihan saja. Pokoknya banyak sekali, namanya tidak saya utarakan. Ini beberapa hari sudah tujuh orang datang ke sini,” kata Mbah Suratin.

Awalnya para calon legislatif (caleg) ini, tidak secara langsung atau terang-terangan menemui dirinya, melainkan mengutus pengantarnya.

“Ritualnya seperti biasa berdoa tetap kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka tidak menyepi, setelah selesai langsung pulang. Mereka juga sempat mandi menggunakan air sendang. Itu suatu rahasia bagi saya, tidak saya utarakan namanya,” ucapnya.

Mbah Suratin menilai siapa pun diperbolehkan untuk datang ke Sendang Tirto Kamandanu, tanpa memandang status maupun latar belakang agama maupun kepercayaaanya.

“Di sini boleh dan bebas, dalam arti kata hanya berdoa serta melestarikan budaya leluhur. Ini hanya sebagai perantara saja. Intinya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Maha Segala,” tutur mantan guru Sekolah Rakyat, yang menjadi juru kunci sejak tahun 1997.( HND ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here